Map of Museum Aceh

Top Rated Products

READY FOR A TRIP?

Dont hesitate to call us.
or CLICK to request.

081910831792support_img

Museum Aceh

Museum Aceh, Jalan Sultan Mahmudsyah, Peuniti, Banda Aceh City, Aceh
(Average 0 of 0 Ratings)
  • place-img
  • place-img
place-imgplace-img

Bangunan Museum ini sangat unik. Jika berkunjung ke Banda Aceh, museum ini tidak boleh dilewatkan karena dapat membuat kamu lebih mengenal sejarah Aceh dari jaman pra sejarah. Selain itu, ada apa lagi ya?

Museum Aceh

Museum Aceh adalah tempat yang tidak boleh dilewatkan saat singgah di Banda Aceh. Terletak di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, Banda Aceh, museum ini menyimpan berbagai pernak-pernik peninggalan sejarah masyarakat Aceh sejak era pra sejarah.

Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Museum ini dikepalai oleh FW Stammeshaus yang menjabat sebagai Kepala Museum sekaligus Kurator hingga tahun 1931. Pada saat itu, museum ini hanya berbentuk sebuah rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh) yang keberadaannya masih tetap dipertahankan dalam area halaman museum hingga saat ini. Bangunan berbahan dasar kayu ini berbentuk rumah panggung dengan sistem konstruksi pasak yang dapat dibongkar pasang secara fleksibel. Atas prakarsa T. Hamzah, pada 1969, Museum Aceh dipindahkan dari lokasi lama di Blang Padang ke lokasinya yang sekarang di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, menempati tanah seluas 10.800 m2. Di tempat yang baru ini, selain tetap menggunakan Romoh Aceh, sejak tahun 1974 juga ada Gedung Pameran Tetap, Gedung Pameran Temporer, Gedung Pertemuan, Perpustakaan, Laboratorium, Gedung Galeri, dan Rumah Dinas.

Museum Aceh memiliki 6.038 koleksi benda budaya, diantaranya berbagai jenis perkakas, peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, senjata tradisional dan pakaian tradisional. Di museum ini kita juga dapat menemukan berbagai koleksi manuskrip kuno, dokumentasi foto sejarah dan maket dari perkembangan Masjid Agung Baiturrahman. Diantara koleksi yang cukup populer dari museum ini adalah sebuah lonceng yang usianya telah mencapai 1400 tahun. Lonceng ini bernama ‘Lonceng Cakra Donya’ yang merupakkan hadiah dari Kaisar Cina dari Dinasti Ming kepada Sultan Pasai pada Abad Ke-15, yang dihadiahkan saat perjalanan muhibah Laksamana Muhammad Cheng Ho. Lonceng ini dibawa ke Aceh saat Sultan Ali Mughayat Syah dari Kesultanan Aceh menaklukkan Pasai pada tahun 1524 M. Tak hanya itu, Di komplek museum Aceh juga terdapat makam sultan-sultan Aceh dan keluarganya, umumnya terbuat dari batu gunung dan dihiasi kaligrafi Arab. Salah satunya adalah makam Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam yang merupakan sultan paling besar dalam kesultanan Aceh dan memerintah sejak tahun 1606 hingga 1636. Selama 30 tahun masa pemerintahannya, Aceh mencapai masa kejayaan dimana beliau berhasil menyatukan wilayah semenanjung, menjalin hubungan diplomatik dengan Negara tetangga, menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan di Asia Tenggara, dan membawa kerajaan Aceh Darussalam menjadi kerajaan Islam terbesar kelima di dunia. Museum Aceh cocok untuk dikunjungi agar generasi muda tidak melupakan sejarah bahwa Aceh pernah menjadi pusat baik perdagangan hingga pusat penyebaran agama Islam.