Map of Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Top Rated Products

READY FOR A TRIP?

Dont hesitate to call us.
or CLICK to request.

081910831792support_img

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat
(Average 0 of 0 Ratings)
  • place-img
  • place-img
place-imgplace-img

Buya Hamka selain seorang ulama besar yang sangat sangat kharismatik yang dikagumi oleh umat islam. Beliau juga seorang penulis keagamaan dan penulis roman yang karya-karyanya menjadi rujukan bacaan di sekolah.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka adalah museum yang terletak di sekitar tepian Danau Maninjau, tepatnya di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Museum ini mulai dibangun pada tahun 2000 dan diresmikan pada tahun 2001 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Zainal Bakar.

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal luas dengan nama Buya Hamka lahir pada hari Senin, 17 Februari 1908. Anak tertua dari tujuh bersaudara ini lahir di tengah keluarga yang kuat memegang ajaran agama. Beliau dikenal sebagai seorang ulama dan sastrawan Indonesia.

Sejak remaja, Hamka telah memiliki ketertarikan yang besar dengan dunia sastra dan organisasi pergerakan. Kegemarannya dalam membaca telah mengembangkan wawasannya hingga diluar batas pemikiran generasi remaja seusianya ketika itu.

Hal ini pula yang membuatnya membulatkan tekad untuk merantau ke Jawa saat berusia 16 tahun, pada sekitar tahun 1924. Di Yogyakarta dan Bandung, ia aktif di sejumlah organisasi pergerakan antara lain Sarekat Islam dan Muhammadiyah dan menyempatkan berguru kepada tokoh-tokoh pergerakan diantaranya HOS Cokroaminoto.

Meski hanya setahun, apa yang ia peroleh selama merantau banyak berpengaruh besar terhadap perjalanan hidupnya. Pada masa setelahnya, Hamka banyak berkontribusi dalam dakwah dan pergerakan melalui kontribusi tulisan-tulisannya yang sebagian diantaranya berakhir dengan pelarangan karena dianggap membahayakan pemerintah Hindia Belanda.

Setelah era kemerdekaan hingga akhir hidupnya, Hamka tetap aktif menulis di berbagai media, baik buletin, majalah, buku, roman, hingga tafsir Al-Quran. Dari sekitar 118 judul buku yang pernah ia tulis semasa hidupnya, sekitar 28 judul dapat kita lihat diantara koleksi buku di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini.

Selain karya-karya Hamka, di museum ini pengunjung juga dapat melihat berbagai benda peninggalan dan dokumentasi perjalanan hidup Hamka. Diantara koleksi-koleksi penting museum ini adalah lukisan serta foto Hamka semasa muda hingga dewasa dan sejumlah penghargaan yang pernah diperolehnya semasa hidup.

Ada pula sebuah foto yang menggambarkan lautan manusia yang ikut mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir pada tanggal 24 Juli 1981. Selain itu, terdapat pula koleksi seperti jubah kehormatan beserta toga yang digunakan Hamka saat menerima gelar Doktor Honoris Causa di Al-Azhar Cairo serta Universitas Kebangsaan Malaysia. Di sebelah ruang tamu, tersusun 5 rak buku kaca tempat menyimpan buku-buku koleksi museum yang jumlahnya sekitar 200 judul. Namun dari sekitar 118 judul, yang tersimpan di museum ini hanya 28 judul.

Hamka dikenal sebagai seorang humanis yang rendah hati, membawa khutbah dan pidato yang memikat. Ceramah-ceramahnya dengan pilihan kalimat-kalimat yang santun telah mengikat perhatian umat di berbagai pelosok dearah. Sepeninggal Hamka, pemerintah menyematkan Bintang Mahaputra Utama secara anumerta kepada Hamka. Sejak 2011, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indoensia. Namanya diabadikan untuk perguruan tinggi Islam di Jakarta milik Muhammadiyah, yakni Universitas Muhammadiyah Hamka.