PIKNIK ATAS NAMA PENDIDIKAN

PIKNIK ATAS NAMA PENDIDIKAN

PIKNIK ATAS NAMA PENDIDIKANPIKNIK ATAS NAMA PENDIDIKAN

 

Dikutip dari Ide Bisnis edisi 49/ Juni 2014

PIKNIK ATAS NAMA PENDIDIKAN

Istilah Karyawisata mungkin mulai usang. Anak sekolah sekarang bisa jadi lebih mengenalnya dengan nama “Study Tour”. Karenanya, study tour pun tak melulu melongok keraton, candi, atau paling pol ke Bali.

Beberapa tahun belakangan ini, sejumlah sekolah di seputaran Jakarta – khususnya swasta favorit – menggelar study tour para siswa nya sampai ke luar negeri segala. Tidak hanya ke negeri tetangga macam Singapura atau Malaysia, tapi ke negara yang perlu terbang 6 bahkan belasan jam seperti ke Jepang, Korea, bahkan ke Amerika Serikat.

Tak hanya sekali, beberapa sekolah – atas nama orientasi atau apapun lah nama nya bisa bikin kegiatan semacam itu berkali-kali untuk siswanya.

“Tahun ini saja aku ikut dua kali. Pertama ke Malaysia, dan April kemarin ke Jepang” ungkap  Saskia, siswi SMP sekolah Islam di kawasan Cibubur, Jakarta Timur yang meminta nama asli diri dan sekolah nya jangan ditulis lengkap.

Saskia mengaku senang sekali bisa ikut kegiatan itu. “Aku baru pertama ke Malaysia juga ke Jepang. Asik bisa dapet pengalaman baru. Dapet temen-temen baru. Dan lumayan bisa dikit-dikit ngomong Jepang. Konicchwa… hehe”

Agar putrinya bisa ikut karya wisata, eh study tour ke Jepang, ibunya Saskia harus membayar sekitar 40 juta, all in. Alias sudah mencakup semua biaya; tiket pesawat Jakarta-Tokyo p/p, visa, transportasi lokal, dan akomodasi selama 10 hari sang putri di Jepang. Tapi kalau Saskia mau shopping, tentulah harus pakai uang sendiri.

Saskia tidak sendiri, dan sekolah yang menggelar kegiatan study tour semacam itu pun cukup banyak. Jadilah hal tersebut peluang bisnis yang segera disergap oleh beberapa penyelenggara wisata, Baik itu biro wisata (travel beureau), agen perjalanan, sampai lembaga pendidikan.

 

KEHIDUPAN LEBAH

Lepas dari study tour yang digelar memang sarat dengan unsur pendidikan atau sekadar piknik toh kegiatan ini dianggap perlu untuk ditempatkan pada posisi yang benar. “Kebanyakan study tour dilaksanakan dengan konsep yang salah. Misalnya paket study tour ke Bali dengan berkunjung ke berbagai pura.  Hal seperti itu sebenarnya berwisata dan tidak bisa dikategorikan sebagai study tour. Kegiatan seperti itu bisa dilakukan bersama keluarga, tanpa harus bersama dengan sekolah” tegas Irwan Thamrin, pemilik wisatasekolah.com di Tangerang, Banten.

Menurut Irwan, lembaga yang dikelolanya itu bukan seperti biro wisata atau penyelenggara kegiatan (event organizer),” katanya. Perbedaan dengan biro wisata atau agen perjalanan, menurutya, lembaganya itu tidak sekedar menjual paket wisata, tapi juga terjun langsung menyelenggarakan kegiatan. Tambahan lain, setiap kegiatan yang digelarnya pun sarat dengan muatan pendidikan.

“Seluruh kru yang kami miliki adalah ahli di dunia pendidikan anak. Rata-rata mereka pernah menjadi guru” kata Irwan.

Namanya juga study tour, harusnya lebih sering dilaksanakan pada hari sekolah. “Kalau hari libur justru mengalami penurunan. Dari kondisi ini saja sudah bisa dibedakan antara study tour dengan kegiatan berwisata,” imbuh pengusaha berusia 35 tahun itu.

Jenis kegiatannya pun jangan melulu mengunjungi lokasi wisata, tapi ke banyak tempat yang selain menarik juga sarat unsur pendidikannya. Karenanya, beberapa waktu lalu wisatasekolah.com pernah menyelenggarakan study tour Sekolah SDIT AL Qomar, Jakarta Barat mengunjungi kapal TNI AL.

“Melalui kegiatan seperti ini siswa dapat mengenal TNI Angkatan Laut berserta peralatannya secara lebih dekat dan lebih detik. Diharapkan pula mampu meningkatkan kecintaan anak-anak terhadap TNI serta bangga sebagai Bangsa Indonesia. Lebih lanjut lagi diharapkan menumbuhkan minat mereka terhadap profesi kemiliteran,” ungkap Ahmad Budi Setiawan, Kepala SDIT Al Qomar.

Untuk kegiatan sehari dan di dalam kota, Wisatasekolah.com mematok tarif sekitar Rp. 125.000,- untuk satu peserta.

Contoh study tour lain yang telah dilakukan oleh wisatasekolah.com yaitu kunjungan ke peternakan lebah di Cibubur bersama Sekolah SDIT Gema Nurani, Bekasi, Jawa Barat. Di tempat tersebut, siswa mempelajari pengetahuan tentang kehidupan lebah serta cara pemeliharaannya. Menurut Sindhy Sapta guru SDIT Gema Nurani dengan kegiatan seperti ini diharapkan anak dapat memperoleh pengetahuan secara langsung tentang kehidupan lebah. Baik daur hidupnya maupun proses bagaimana fauna tersebut bisa menghasilkan madu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan minuman yang menyehatkan. Pengetahuan ain yang diberikan di tempat itu yaitu manfaat sengat lebah sebagai obat.

Shofa, siswi SDIT Gema Nurani merasa senang karena ia dapat mengetahui secara langsung lebah penghasil madu. “Saya dijelasin dari mana asal madunya, lalu nama lebahnya. Selain itu juga dijelasin jenis-jenis lebahnya,” kata Shofa.

Nah, siapa bilang study tour di dalam negeri tidak kalah menarik. Yang penting, bagaimana mengemas kegiatannya. Dan secara hitungan bisnis buat para penyelenggara toh masih terasa manis.

Teks: Teguh Jiwabrata

About the Author

By chitra / Editor

Follow chitra
on Jan 15, 2019

No Comments

Leave a Reply