Pariwisata adalah salah satu industri terbesar di dunia, dan juga salah satu penyumbang terbesar terhadap kerusakan lingkungan. Jejak karbon dari penerbangan, sampah plastik yang ditinggalkan di destinasi wisata, terumbu karang yang rusak karena wisatawan yang tidak terdidik, dan hutan yang dibuka untuk infrastruktur wisata massal adalah daftar kerusakan yang tidak bisa diabaikan.
Tapi ada cara yang berbeda untuk berwisata. Cara yang tidak hanya meminimalkan kerusakan, tapi aktif berkontribusi pada pelestarian. Cara itulah yang disebut ekowisata.
Dan Indonesia, dengan kekayaan alam yang luar biasa dan ekosistem yang masih banyak tersisa, adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk mempraktikkan dan mempelajari ekowisata.
1. Apa yang Membedakan Ekowisata dari Wisata Alam Biasa
Tidak semua wisata ke alam adalah ekowisata. Perbedaannya ada pada tiga elemen yang harus hadir sekaligus:
- Meminimalkan dampak negatif. Praktik perjalanan yang secara aktif mengurangi jejak lingkungan: membatasi jumlah pengunjung, tidak meninggalkan sampah, menggunakan transportasi yang lebih bersih, dan menghindari aktivitas yang merusak ekosistem.
- Berkontribusi pada konservasi. Sebagian dari biaya wisata langsung mendukung upaya pelestarian ekosistem yang dikunjungi, baik melalui dana konservasi, keterlibatan dalam kegiatan monitoring, atau mendukung penelitian ilmiah.
- Memberdayakan komunitas lokal. Keuntungan ekonomi dari ekowisata harus mengalir langsung ke komunitas yang tinggal di sekitar kawasan yang dikunjungi, bukan hanya ke operator wisata dari luar.
IUCN mendefinisikan ekowisata sebagai “perjalanan yang bertanggung jawab ke kawasan alami yang melestarikan lingkungan, menopang kesejahteraan penduduk lokal, dan melibatkan interpretasi dan pendidikan”.
Baca juga: Wisata Alam Outdoor Siswa: Hutan Lebih dari Buku Teks
2. Destinasi Ekowisata Terbaik di Indonesia untuk Sekolah
Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh dan Sumatra Utara. Salah satu kawasan keanekaragaman hayati terpenting di dunia, rumah bagi orangutan Sumatra, harimau Sumatra, badak Sumatra, dan gajah Sumatra yang semuanya terancam punah. Program ekowisata di kawasan ini, termasuk trekking dengan pemandu yang berpengalaman dan kunjungan ke pusat rehabilitasi orangutan, memberikan pengalaman konservasi yang sangat langsung.
Taman Nasional Komodo, NTT. Situs Warisan Dunia UNESCO yang menjadi habitat komodo, kadal terbesar di dunia, dan ekosistem laut yang luar biasa kaya. Program ekowisata di sini dikelola dengan sangat ketat untuk membatasi dampak terhadap habitat komodo dan terumbu karang.
Hutan Penelitian Wanariset, Kalimantan Timur. Program ekowisata yang melibatkan pengunjung dalam kegiatan penelitian nyata tentang rehabilitasi orangutan dan restorasi hutan. Ini adalah contoh ekowisata yang paling murni: wisatawan bukan hanya mengamati, tapi berkontribusi pada penelitian.
Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Kawasan segitiga terumbu karang dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di Indonesia, dikelola dengan standar ekowisata yang sangat ketat. Program menyelam dan snorkeling di sini dirancang untuk memaksimalkan pengalaman sambil meminimalkan dampak terhadap terumbu karang.
3. Prinsip Ekowisata yang Perlu Diajarkan ke Siswa
- Leave No Trace. Tujuh prinsip LNT adalah panduan praktis untuk meminimalkan dampak kunjungan ke alam: rencanakan perjalanan dengan baik, perjalani permukaan yang tahan lama, kelola limbah dengan benar, tinggalkan semua yang Anda temukan, minimalkan dampak api unggun, hormati satwa liar, dan pertimbangkan pengunjung lain.
- Pilih operator yang bertanggung jawab. Tidak semua yang menyebut dirinya “ekowisata” benar-benar menerapkan prinsipnya. Siswa perlu diajarkan cara mengevaluasi operator wisata berdasarkan praktik nyata, bukan hanya klaim marketing.
- Dukung ekonomi lokal. Membeli dari pengrajin lokal, menginap di penginapan yang dimiliki komunitas, dan menggunakan pemandu lokal adalah cara langsung untuk memastikan ekowisata benar-benar menguntungkan komunitas yang tinggal di dekat kawasan yang dikunjungi.
4. Ekowisata sebagai Kurikulum Lingkungan yang Hidup
Ekowisata yang dirancang dengan baik adalah kurikulum pendidikan lingkungan yang tidak bisa disaingi oleh kelas manapun. Siswa yang pernah berkontribusi pada monitoring populasi orangutan di lapangan, atau yang pernah menanam terumbu karang buatan di perairan Wakatobi, akan membawa kepedulian lingkungan itu seumur hidup.
Baca juga: Evaluasi Wisata Edukasi: Lebih dari Sekadar Lembar Fun
Rancang program ekowisata bersama WisataSekolah untuk generasi yang akan mewarisi bumi ini dan perlu dipersiapkan untuk menjaganya.