Setiap 5 Oktober, UNESCO memperingati Hari Guru Sedunia. Sebuah tanggal untuk menghormati peran guru dalam membentuk generasi dan peradaban. Dan di Indonesia, ada satu nama yang selalu muncul ketika kita membicarakan tentang guru yang paling berpengaruh dalam sejarah bangsa ini.
Namanya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, yang kita kenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.
Tapi di balik nama besar itu, ada kisah yang lebih kaya dari sekadar “Bapak Pendidikan Nasional” yang dicetak di buku pelajaran: kisah seorang bangsawan Jawa yang memilih memihak rakyat, seorang pemikir yang dihukum buang oleh pemerintah kolonial, dan seorang pendidik yang visinya tentang pendidikan masih relevan, bahkan lebih relevan, untuk dunia yang kita hadapi hari ini.
1. Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa: Revolusi Pendidikan yang Sunyi
Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa, yang kemudian dikenal sebagai Perguruan Taman Siswa, di Yogyakarta. Ini bukan hanya sekolah biasa. Ini adalah pernyataan politik dan filosofis yang sangat berani.
Pada masa itu, sistem pendidikan kolonial Belanda dirancang untuk menghasilkan pegawai yang patuh, bukan pemikir yang merdeka. Taman Siswa hadir dengan filosofi yang bertolak belakang: bahwa pendidikan adalah hak semua orang, bahwa guru harus menjadi teladan bukan penguasa, dan bahwa budaya lokal harus menjadi fondasi bukan halangan pendidikan.
Semboyan “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” yang diajarkan di sekolah bukan hanya slogan. Ini adalah sistem kepemimpinan dan pedagogi yang sangat canggih: di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang mendorong dan mendukung.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menetapkan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan tanggal lahirnya, 2 Mei, sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Baca juga: Kurikulum Sekolah Ketinggalan Zaman? Ini Buktinya
2. Destinasi Wisata Sejarah Pendidikan yang Paling Penting
Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta. Museum yang berdiri di bekas kediaman Ki Hajar Dewantara di kawasan Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta, menyimpan koleksi peninggalan beliau: foto-foto, dokumen-dokumen, karya tulisnya, dan berbagai artefak dari perjalanan hidupnya yang luar biasa.
Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta. Lembaga pendidikan yang didirikan Ki Hajar Dewantara masih beroperasi hingga hari ini, lebih dari seabad setelah berdirinya. Mengunjungi sekolah yang masih menjalankan filosofi aslinya adalah pengalaman yang sangat menyentuh.
Museum Pendidikan Nasional, Bandung. Berlokasi di kompleks Universitas Pendidikan Indonesia, museum ini menyimpan koleksi sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia dari era tradisional hingga modern, termasuk alat-alat tulis kuno, buku-buku pelajaran dari berbagai era, dan foto-foto sekolah dari masa kolonial.
Makam Ki Hajar Dewantara, Yogyakarta. Terletak di kawasan Taman Siswa, makam ini adalah tempat peristirahatan terakhir sosok yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk pendidikan Indonesia.
3. Tokoh Pendidikan Indonesia Lain yang Layak Dikenal
Kartini. Bangsawan Jawa dari Jepara yang surat-suratnya mengungkap pemikiran tentang emansipasi perempuan dan pentingnya pendidikan yang sangat maju untuk zamannya. Museum Kartini di Jepara menyimpan berbagai peninggalan dan dokumen tentang kehidupan dan pemikirannya.
Mohammad Syafei. Pendiri INS Kayutanam (Indonesische Nederlandsche School) di Padang Panjang, Sumatera Barat, yang mengembangkan model pendidikan berbasis keterampilan praktis dan kemandirian yang sangat progresif untuk zamannya. Sekolah yang didirikannya pada 1926 masih beroperasi hingga kini.
Dewi Sartika. Pejuang pendidikan perempuan dari Bandung yang mendirikan sekolah untuk perempuan Sunda pada 1904, menjadi salah satu perintis pendidikan perempuan di Indonesia yang paling awal dan paling berdampak.
4. Refleksi untuk Hari Guru Sedunia
Di Hari Guru Sedunia ini, ada pertanyaan yang layak untuk diajukan kepada siswa: Siapa guru yang paling berpengaruh dalam hidupmu, dan apa yang membuat mereka berbeda? Pertanyaan ini, jika dijawab dengan jujur, sering mengungkapkan bahwa guru yang paling berpengaruh bukan yang paling banyak memberikan informasi, tapi yang paling tulus hadir dan peduli.
Baca juga: Experiential Learning Efektif: Otak Siswa di Luar Kelas
Rancang program wisata sejarah pendidikan bersama WisataSekolah untuk mengenal dan menghormati mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa.