Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Sebuah tanggal yang tidak bisa dilepaskan dari peristiwa yang terjadi pada dini hari 30 September hingga 1 Oktober 1965, salah satu momen paling traumatik dan paling diperdebatkan dalam sejarah Indonesia.
Di malam itu, tujuh perwira tinggi Angkatan Darat diculik dan dibunuh. Jasad mereka dibuang ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dalam narasi resmi yang kemudian dibangun oleh Orde Baru, peristiwa ini disebut sebagai “Pemberontakan G30S/PKI” dan menjadi justifikasi untuk penghancuran Partai Komunis Indonesia yang diikuti oleh pembunuhan massal yang korbannya diperkirakan antara 500.000 hingga 1 juta orang.
Sejarah peristiwa ini sangat kompleks, sangat diperdebatkan oleh para sejarawan, dan sangat berpengaruh terhadap seluruh perjalanan Indonesia sesudahnya. Dan situs Lubang Buaya yang kini menjadi Monumen Pancasila Sakti adalah tempat di mana semua kompleksitas itu bisa didekati secara langsung.
1. Apa yang Ada di Monumen Pancasila Sakti
Kawasan Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, mencakup beberapa bagian yang bisa dikunjungi:
Sumur tua (Lubang Buaya). Sumur sedalam 12 meter di mana jenazah tujuh pahlawan revolusi dibuang. Kini ditutup dengan kaca dan bisa disaksikan dari atas. Berdiri di sini adalah pengalaman yang sangat mengundang kontemplasi.
Museum Pengkhianatan PKI. Museum yang menampilkan diorama-diorama dari berbagai pemberontakan yang dalam narasi Orde Baru dikaitkan dengan PKI. Konten museum ini mencerminkan perspektif resmi yang dominan pada era tersebut dan penting untuk dibaca secara kritis.
Rumah-rumah yang digunakan sebagai lokasi penganiayaan. Beberapa rumah di sekitar kawasan yang dalam narasi resmi digunakan sebagai lokasi penahanan dan penganiayaan masih dipertahankan sebagai bagian dari memorial.
Baca juga: Museum Edukasi Interaktif: Bukan Tempat yang Membosankan
2. Cara Mengunjungi Lubang Buaya dengan Perspektif Kritis
Kunjungan ke Monumen Pancasila Sakti adalah latihan yang sangat baik dalam berpikir historis kritis. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan pendidik sebelum membawa siswa ke sini:
Sampaikan bahwa sejarah memiliki versi. Narasi yang ditampilkan di museum ini adalah narasi resmi Orde Baru. Para sejarawan seperti Benedict Anderson, John Roosa, dan Geoffrey Robinson telah menawarkan interpretasi yang berbeda dan lebih kompleks berdasarkan dokumen-dokumen yang baru dibuka. Tidak ada versi yang sepenuhnya tunggal dan final.
Bedakan antara fakta dan interpretasi. Bahwa tujuh perwira diculik dan dibunuh pada malam itu adalah fakta yang tidak diperdebatkan. Siapa yang bertanggung jawab, apa motifnya, dan apa yang terjadi sesudahnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang masih diperdebatkan oleh sejarawan.
Ajukan pertanyaan tentang siapa yang tidak diceritakan. Korban kekerasan pasca-G30S yang jumlahnya jauh lebih besar tidak mendapat tempat yang signifikan dalam narasi museum ini. Siapa mereka? Apa cerita mereka?
3. Pelajaran Kewarganegaraan dari Peristiwa 1965
Terlepas dari kompleksitas historisnya, ada pelajaran kewarganegaraan yang sangat penting yang bisa dipetik dari kunjungan ke Lubang Buaya:
- Ideologi politik adalah sesuatu yang memiliki konsekuensi nyata dalam kehidupan. Konflik ideologi tidak selalu bisa diselesaikan dengan debat yang beradab.
- Narasi sejarah resmi sering tidak lengkap dan perlu dilengkapi dengan sumber-sumber yang beragam.
- Rekonsiliasi sejarah adalah proses yang panjang dan membutuhkan keberanian untuk mengakui kompleksitas masa lalu.
- Pancasila sebagai dasar negara bukan sesuatu yang statis tapi sesuatu yang terus diperjuangkan maknanya oleh setiap generasi.
Baca juga: Social Emotional Learning di Luar Kelas: Apa Datanya?
4. Rekomendasi untuk Pendidik
Kunjungan ke Lubang Buaya paling bermakna untuk siswa SMA yang sudah memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih matang. Siapkan bacaan pengantar tentang berbagai perspektif sejarah G30S sebelum kunjungan, dan jadwalkan sesi diskusi yang dipandu dengan baik setelah kunjungan untuk membantu siswa memproses apa yang mereka lihat dan rasakan.
Rancang program wisata sejarah Jakarta bersama WisataSekolah dengan pemandu yang kompeten untuk mendampingi siswa mengunjungi situs-situs bersejarah yang kompleks.