Di Jakarta, ada gedung setinggi 24 lantai yang menyimpan lebih dari 1 juta judul buku, jutaan dokumen sejarah, naskah-naskah kuno berusia berabad-abad, dan koleksi digital yang bisa diakses dari seluruh Indonesia. Gedung ini adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang selesai dibangun pada 2017 dan menjadi gedung perpustakaan tertinggi di dunia saat itu.
Tapi yang lebih penting dari ukurannya adalah apa yang ada di dalamnya.
Karena di balik angka-angka yang mengesankan itu, tersimpan koleksi yang menceritakan tentang Indonesia dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh satupun museum atau sekolah: melalui dokumen-dokumen aslinya, manuskrip-manuskrip tertua, peta-peta bersejarah, dan rekaman-rekaman yang paling dekat dengan kejadian sesungguhnya.
1. Apa yang Ada di Dalam Perpustakaan Nasional
Koleksi Naskah Nusantara. Salah satu koleksi yang paling berharga di Perpusnas adalah ribuan naskah kuno dalam berbagai aksara dan bahasa: aksara Jawa, Bali, Bugis, Sunda, Arab-Melayu (Pegon), dan banyak lagi. Naskah-naskah ini adalah sumber primer tentang pengetahuan, sastra, hukum adat, dan kosmologi Nusantara yang tidak ada di tempat lain.
Koleksi Peta Historis. Peta-peta yang dibuat oleh kartografer Belanda, Portugis, dan Inggris dari abad ke-16 hingga ke-19 tentang kepulauan Nusantara tersimpan di sini. Membandingkan bagaimana Nusantara digambarkan di peta-peta berbeda dari berbagai era adalah cara yang sangat visual untuk memahami sejarah geopolitik dan kolonialisme.
Koleksi Foto dan Audiovisual. Foto-foto Indonesia dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, rekaman suara, dan arsip film yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari, peristiwa penting, dan transformasi lanskap Indonesia tersimpan dalam koleksi audiovisual yang sangat besar.
Perpustakaan Digital Indonesia. Melalui platform iPusnas, jutaan judul buku digital bisa diakses secara gratis oleh siapapun yang memiliki kartu anggota, bahkan tanpa harus datang ke gedung. Ini adalah demokratisasi akses pengetahuan yang sangat signifikan.
Baca juga: Kurikulum Sekolah Ketinggalan Zaman? Ini Buktinya
2. Mengapa Perpustakaan adalah Destinasi Wisata Literasi yang Sesungguhnya
Indonesia menghadapi krisis literasi yang serius. Survei PISA secara konsisten menempatkan Indonesia di posisi bawah dalam kemampuan membaca dan literasi informasi di antara negara-negara yang disurvei.
Tapi angka itu tidak menceritakan gambar yang lengkap. Karena literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca teks. Ini tentang kemampuan mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif. Dan perpustakaan adalah tempat terbaik untuk belajar keterampilan itu secara langsung.
Perpustakaan Nasional RI secara aktif mengembangkan program literasi untuk pelajar dan menyambut kunjungan sekolah dengan berbagai program yang dirancang khusus, termasuk tur koleksi khusus, workshop pencarian informasi, dan sesi pengenalan dengan naskah-naskah bersejarah.
3. Perpustakaan Daerah sebagai Destinasi yang Lebih Terjangkau
Tidak semua sekolah bisa mengunjungi Perpustakaan Nasional di Jakarta. Tapi setiap provinsi dan sebagian besar kabupaten memiliki perpustakaan daerah yang bisa menjadi destinasi wisata literasi yang sangat relevan:
- Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Menyimpan koleksi manuskrip Jawa yang sangat berharga dan menyelenggarakan program literasi reguler.
- Perpustakaan Sonobudoyo, Yogyakarta. Perpustakaan dan museum yang menyimpan koleksi aksara Jawa dan berbagai naskah budaya Jawa yang luar biasa.
- Perpustakaan Bung Karno, Blitar. Koleksi yang berfokus pada pemikiran dan warisan Soekarno, sangat relevan untuk pelajaran sejarah dan kewarganegaraan.
4. Cara Membuat Kunjungan Perpustakaan Bermakna bagi Siswa
- Beri siswa “misi riset” spesifik sebelum kunjungan: topik yang harus mereka selidiki menggunakan koleksi perpustakaan.
- Minta mereka menemukan satu fakta tentang Indonesia yang tidak ada di buku pelajaran mereka.
- Ajak mereka menyentuh (dengan pengawasan) atau setidaknya melihat langsung naskah kuno yang ada di koleksi khusus.
- Diskusikan konsep “sumber primer vs sumber sekunder” dan mengapa perbedaan itu penting dalam menilai informasi.
Perpustakaan bukan tempat yang membosankan. Ia adalah tempat di mana seluruh pengetahuan manusia tersimpan dalam format yang paling demokratis: terbuka untuk siapapun yang mau datang dan membuka halamannya.
Konsultasikan program wisata literasi bersama WisataSekolah dan jadikan perpustakaan sebagai petualangan pengetahuan yang sesungguhnya.