Sebelum ada alfabet, sebelum ada kertas, sebelum ada mesin cetak, manusia sudah menyimpan dan menyampaikan pengetahuan, sejarah, dan nilai-nilai melalui cara yang paling alami: dengan berbicara, bernyanyi, dan bercerita.
Tradisi lisan adalah teknologi penyimpanan informasi yang paling tua dan paling tangguh yang pernah ada. Ia tidak memerlukan listrik, tidak memerlukan server, tidak memerlukan perangkat. Yang dibutuhkan hanyalah manusia yang mau mendengarkan dan manusia yang mau bercerita.
Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan tradisi lisan yang paling luar biasa di dunia. Dan sebagian besar dari kekayaan itu sedang dalam bahaya kepunahan yang sangat serius.
1. Kekayaan Tradisi Lisan Indonesia yang Perlu Dikenal
Pantun Melayu. Bentuk puisi lisan tradisional yang tersebar di seluruh dunia Melayu, dari Sumatera hingga Malaysia hingga Brunei. Pantun bukan hanya hiburan, ia adalah medium komunikasi formal yang digunakan dalam berbagai upacara adat, lamaran pernikahan, dan pertemuan-pertemuan penting. Kemampuan berpantun adalah keterampilan sosial yang sangat dihargai dalam masyarakat Melayu tradisional.
Kaba, Minangkabau. Cerita panjang yang disampaikan secara lisan (dan kadang diiringi musik) dalam tradisi Minangkabau. Kaba Cindua Mato dan Kaba Malin Kundang adalah yang paling dikenal, menceritakan kisah-kisah heroik dan tragis yang sarat nilai moral.
Kentrung, Jawa. Pertunjukan cerita solo yang diiringi rebana, menceritakan kisah-kisah wayang dan cerita rakyat Jawa dalam format yang sangat intim dan sangat tergantung pada kemampuan dalang mempertahankan perhatian pendengar tanpa bantuan visual.
Tifa dan cerita lisan Papua. Di berbagai komunitas di Papua, tradisi cerita lisan yang diiringi tifa (gendang) adalah cara utama untuk menyimpan dan menyampaikan sejarah, kosmologi, dan nilai-nilai komunal. Banyak dari tradisi ini yang terancam punah seiring generasi muda beralih ke media digital.
Baca juga: Cultural Trip Generasi Z: Strategi agar Benar-Benar Engaged
2. Mengapa Tradisi Lisan Terancam dan Mengapa Itu Penting
UNESCO memperingatkan bahwa tradisi lisan adalah bentuk warisan budaya yang paling rentan karena sangat bergantung pada manusia yang masih hidup untuk mentransmisikannya. Ketika penutur terakhir dari sebuah tradisi lisan meninggal tanpa mewariskan keahliannya kepada siapapun, seluruh sistem pengetahuan, nilai, dan estetika yang tersimpan dalam tradisi itu hilang selamanya.
Di Indonesia, diperkirakan lebih dari separuh bahasa daerah yang ada menghadapi risiko kepunahan dalam satu atau dua generasi ke depan. Dan ketika bahasa punah, seluruh kekayaan tradisi lisan yang hanya bisa diungkapkan dalam bahasa itu ikut hilang.
3. Cara Sekolah Berkontribusi pada Pelestarian Tradisi Lisan
- Kunjungan ke penutur tradisi lisan dan perekaman. Mengunjungi dalang, penutur kaba, atau pemantonan pantun yang masih aktif dan merekam pertunjukan mereka adalah kontribusi nyata pada dokumentasi warisan lisan. Rekaman itu bisa disimpan di arsip sekolah atau diserahkan ke lembaga pelestarian budaya.
- Workshop tradisi lisan dalam kurikulum. Mengundang penutur tradisi lisan ke sekolah untuk berbagi keahlian dan mengajarkan dasar-dasar pantun, kaba, atau cerita rakyat daerah kepada siswa adalah langkah kecil yang berdampak besar pada keberlangsungan tradisi.
- Festival sastra daerah sekolah. Menyelenggarakan festival di mana siswa berkompetisi dalam berpantun, menceritakan cerita rakyat, atau menulis dalam aksara daerah adalah cara yang sangat efektif untuk membuat tradisi lisan terasa relevan dan menarik bagi generasi muda.
4. Destinasi Wisata Sastra dan Tradisi Lisan untuk Sekolah
- Istana Pagarruyung, Sumatera Barat. Pusat kebudayaan Minangkabau yang menjadi tempat pertemuan berbagai tradisi lisan Minang, termasuk pertunjukan Randai (drama tari dengan cerita lisan).
- Sekaten dan Garebeg, Yogyakarta. Festival-festival keraton yang masih menampilkan berbagai tradisi sastra lisan Jawa dalam konteks upacara yang sangat otentik.
- Festival Budaya dan Sastra Daerah yang diadakan oleh berbagai pemerintah daerah setiap tahunnya adalah kesempatan luar biasa untuk menyaksikan tradisi lisan yang beragam dalam satu tempat dan waktu.
Baca juga: Evaluasi Wisata Edukasi: Lebih dari Sekadar Lembar Fun
Setiap cerita yang tidak diceritakan lagi adalah kepunahan kecil yang tidak pernah tercatat di manapun. Dan setiap siswa yang belajar berpantun, atau yang mendengarkan kaba dari penuturnya langsung, adalah tindakan pelestarian yang paling nyata dan paling bermakna.
Rancang program wisata sastra dan tradisi lisan bersama WisataSekolah sebelum cerita-cerita itu tidak ada lagi yang bisa menceritakannya.