Ada cara membaca novel yang sangat berbeda dari cara biasa. Bukan dengan duduk di kursi dengan buku di tangan, tapi dengan berdiri di tempat yang menjadi latar ceritanya. Berjalan di jalan yang sama yang pernah dilalui tokoh-tokohnya. Menghirup udara kota yang pernah menginspirasi penulisnya.
Ini yang disebut wisata sastra. Dan pengalaman itu mengubah cara seseorang membaca untuk selamanya.
Indonesia memiliki tradisi sastra yang sangat kaya, dengan penulis-penulis besar yang karya dan hidupnya tidak bisa dipisahkan dari tempat-tempat tertentu. Mengunjungi tempat-tempat itu adalah cara yang paling immersive untuk masuk ke dalam dunia sastra Indonesia.
1. Solo dan Yogyakarta: Kota Pujangga dan Priyayi
Tidak ada dua kota yang lebih sarat dengan tradisi sastra Jawa daripada Solo dan Yogyakarta. Di sini, tradisi penulisan sastra Jawa yang sudah ada sejak era Mataram Kuno bertemu dengan sastra Indonesia modern yang lahir dari pergolakan awal abad ke-20.
Pramoedya Ananta Toer, yang banyak disebut sebagai penulis Indonesia terbesar abad ke-20, lahir di Blora, Jawa Tengah, tapi Jawa dan kota-kota di sepanjang Pantai Utara adalah latar dari tetralogi Buru yang monumental: “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, dan “Rumah Kaca”. Mengunjungi Surabaya dan Semarang sambil membaca tetralogi itu memberikan dimensi yang tidak bisa dideskripsikan.
Museum Sastra Indonesia di Yogyakarta menyimpan koleksi manuskrip, surat-surat, dan artefak dari para sastrawan Indonesia. Koleksinya mencakup nama-nama besar dari Chairil Anwar hingga W.S. Rendra yang sangat terhubung dengan Yogyakarta.
Baca juga: Museum Edukasi Interaktif: Bukan Tempat yang Membosankan
2. Medan: Tanah Melayu dan Sastra Rimba
Sumatera Utara adalah latar dari banyak karya sastra penting Indonesia. Abdoel Moeis dengan “Salah Asuhan”-nya menggambarkan pergolakan identitas antara tradisi dan modernitas yang berlatar Sumatera Barat. Armijn Pane dengan “Belenggu”-nya mengeksplorasi dilemma modernitas dalam konteks Jawa-Melayu.
Tapi yang paling kuat dari Medan adalah tradisi sastra Melayu yang sangat panjang, dengan pantun dan syair yang sudah ada jauh sebelum bahasa Indonesia modern terbentuk. Perpustakaan daerah Sumatera Utara menyimpan koleksi sastra Melayu yang sangat berharga.
3. Bali: Pulau yang Menginspirasi Sastra Dunia
Bali tidak hanya menginspirasi sastrawan Indonesia, tapi juga penulis dari seluruh dunia. Vicki Baum menulis “A Tale from Bali” pada 1937 yang menggambarkan Bali sebelum dan sesudah penjajahan Belanda dengan sangat detail. Miguel Covarrubias menulis “Island of Bali” yang menjadi salah satu dokumen antropologi-sastra paling komprehensif tentang kebudayaan Bali.
Tapi dalam konteks sastra Indonesia, Bali adalah latar dari banyak puisi dan cerita pendek oleh penulis-penulis seperti Oka Rusmini yang karya-karyanya mengeksplorasi tegangan antara tradisi Bali dan modernitas dari perspektif perempuan Bali.
4. Bandung: Kota Modernis dan Sastra Sunda
Bandung dengan arsitektur Art Deco-nya yang masih tersisa, tradisi intelektual yang kuat sejak era kolonial, dan kehidupan budaya yang aktif adalah latar yang sangat kaya untuk sastra. Tradisi sastra Sunda yang sangat panjang, termasuk pantun Sunda, wawacan (cerita panjang dalam puisi), dan cerita rakyat Sunda, tersimpan di berbagai arsip dan museum di Bandung dan sekitarnya.
5. Bagaimana Merancang Wisata Sastra untuk Sekolah
- Pilih satu karya sebagai “kitab panduan” perjalanan. Sebelum berangkat ke Yogyakarta, baca puisi W.S. Rendra. Sebelum ke Surabaya, mulai baca “Bumi Manusia”. Teks yang dibaca sebelum perjalanan akan terus berbicara selama perjalanan berlangsung.
- Cari jejak fisik penulis. Rumah tempat penulis tinggal, kafe tempat mereka menulis, atau taman tempat mereka berjalan adalah titik-titik kontak yang sangat bermakna antara pembaca dan penulis.
- Bawa buku ke lokasi yang menjadi latarnya. Membaca bagian tertentu dari sebuah novel di lokasi yang menjadi latarnya adalah pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh diskusi di kelas manapun.
- Temu sastrawan lokal. Di hampir setiap kota besar Indonesia ada komunitas penulis yang aktif. Pertemuan singkat dengan penulis lokal memberikan perspektif yang jauh lebih hidup tentang dunia sastra daripada sekadar membaca biografi.
Baca juga: Cultural Trip Generasi Z: Strategi agar Benar-Benar Engaged
Sastra adalah cara manusia merekam pengalaman dengan kedalaman yang tidak bisa dicapai oleh format lain. Dan wisata sastra adalah cara paling langsung untuk merasakan bahwa kedalaman itu bukan abstraksi, tapi jejak nyata manusia di tempat-tempat yang masih bisa dikunjungi.
Rancang program wisata sastra dan budaya bersama WisataSekolah untuk generasi penulis dan pembaca masa depan Indonesia.